Setitik Cahaya

Gemuruh rintik hujan mengagetkanku
Membangunkan semua ketidak normalan

Hari apa ini
Kehangat sudah mulai menjauhi

Satu persatu sungguh menghianati
Inilah yang harus kujalani

Kaki yang kokoh melangkah
Pun takpernah berakhir indah

Anggaan yang tak terbatas
Kini terkikis habis

Senyum yang seharusnya bersama
Kini bertepi dengan air mata

Hanya secuil cahaya yang mau kubawa
Dia gadis kecil dengan penuh kelembutanya

Saat semua tertawa menyakiti
Gadisku menangis tertatih mengobati

Pernah kuberucap tegas di depanya
Akan kutertawi mereka bila tiba saatnya

Dengan kelembutan senyum
Dia hanya sedikit berucap “Tidak perlu seperti itu”

Hanya setitik doa yang tersemat
Agar Tuhan senantiasa menjaganya

“`#idub_san
#akif_za“`

Advertisements

PEREMPUAN HUJAN

Saat pertama kali hati ini berkeluh kesah, memikirkan semua beban yang telah mengakar di angan penuh emosi. Aku hanya terdiam, tak akan kuberbuat apa-apa, karena pasti semuanya sama saja. Ya, tak akan kutemui solusi dari semua itu.

Terbesit dalam di setiap angan bodohku, bahwa aku hanya seorang pemuda tampan yang cacat. Jika diri ini mulai terdiam, tak ada yang bisa kupikir, kecuali satu “Mengakhiri hidupku.”

Bagaimana tidak, segala cara telah kucoba. Mulai datang pada seorang psikolog, ternyata tak ada gangguan apapun dalam jiwa pun pikirku. Aku belum menyerah, kudatangi ahli psioterapi, masih kutemui jawaban yang sama “baik-baik saja.” tidak cukup sekali, sebulan penuh kulalui proses terapi dengan harapan semua ini kutemui jawabanya. Ternyata nihil.

Sebagai seorang remaja tak mungkin kumenyerah begitu saja. Terakhir, ku datang pada salah satu Kyai mursyid ingin berkonsultasi mengenai permasalahanku. Panjang lebar kujelaskan semua, untuk apa aku datang kemari.

Beliau banyak memberi saran terhadapaku, mulai harus lebih mendekat pada Sang Maha segalanya. Harus berdoa lebih dari biasanya. Bersujud lebih lama dari biasanya. Meningkatkan taqwaku lebih dari biasanya. “Allah Maha tahu, tidak ada yang mustahil bagi Dia. Jika memang Allah belum berkehendak, sudah sepatutnya mas bersabar dan selalu meminta.” Jawaban yang sangat memotivasiku.

Kulakukan semua itu sampai pada titik akhir. Nyatanya masih sama, aku tak bisa mencari solusi apapun dalam setiap masalah. Aku sungguh cacat. Oh Tuhan, tunjukkan aku jalan di setiap keluh kesahku. Hati ini sangat-sangat takut jika suatu saat aku akan membenci-Mu.

***

Malam itu hujan menari sangat gemulai bersama angin, di iringi dengan hentakan petir yang sangat menusuk hati. “DIAM KALIAN” kubentak mereka dengan jeritan muak tepat di depanya, akan tetapi itu “GAGAL” mereka semakin memusuhiku.

Sekujur tubuhku basah kuyub oleh tarian bangsat itu, petir pun berganti membentakku dengan suara yang sangat menyakitkan “DASAR PEMUDA CACAT, BISA APA KAU? DENGAN KELUH KESAHMU SAJA KAMU TAK MENANG, BAGAIMANA BISA KAMU BERANI MENANTANG KAMI!”

Seketika aku tergeletak lemah diatas tatanan paving depan rumahku. Mereka terus membasahiku sampai aku tak sadarkan diri.

***

“Kakak bangun, Kakak tidak cacat sama sekali. Kakak bangun, adik janji akan membantu kakak setiap permasalahan kakak”

Samar-samar kudengar bisikan manis nan halus itu tepat di telingaku, mata ini kupaksa melihatnya. Sampai akhirnya bisa kulihat dengan jelas, Dia duduk di depanku sambil tersenyum sangat manis dan mengusap-usap rambut yang basah ini dengan tangan kecilnya. Dia perempuan kecil seusia anak sd kelas 6.

Kucoba menguatkan tubuh untuk berdiri, setelah aku bisa berdiri dengan tegak, kulihat dia lari sangat kencang meninggalkanku. Tangan ini seketika terulur untuk mencoba menghentikannya, akan tetapi hanya bayangnya yang bisa kugapai.

Berawal dari kejadian malam itu, setiap kali hati ini gelisah dan bimbang akan sesuatu, anak kecil itu muncul sekitar jarak 50 meter di depanku dengan sedikit angukan dan tersenyum manis lalu lari entah kemana. Seakan dia memberi suatu pertanda bahwa aku harus mencoba. Ternyata benar, aku berhasil. Aku sudah tak cacat lagi.

Kejadian seperti itu berulang-ulang selama 3 tahun. Setiap dia ingin melarangku, sudah kuhapal, dia pasti akan menangis sambil berlari terjatuh-jatuh meninggalkanku.

Pada suatu malam, datang hujan angin di iringi petir. Kejadian itu mengingatkan aku sangat jelas tentang pertemuan dengan sosok anak kecil yang telah membantuku.

Hatiku tak kuasa menahannya, aku terduduk, menundukkan pandangan ini dalam-dalam dengan air mata yang mengalir sangat jelas, meski air hujan mencoba membiaskan tangisanku.

“Aku ingin menemuinya, kamu dimana?” Jeritku dalam batas kesedihanku.

“Kakak” panggilnya lembut menyudahi tangis. Kuangkat pandangan dengan penuh penasaran.

Benar, Dia berdiri anggun di depanku. Kini Ia sudah besar, seperti biasa Dia tersenyum manis. Sangat cantik, dengan setelan baju warna biru langit, rok pendek warna hitam.

Pun pipi berlesung yang kemerahan terlihat sangat merona, rambut hitam pekat sepundak, yang terurai sedikit tak rapi, karena sudah basah terguyur air hujan menambah sempurna kecantikanya.

Seketika aku terbangun tepat di hadapanya, aku tersenyum bahagia. Dia membalas dengan senyuman lalu memelukku sangat dalam.

Kini kita hanya terdiam dengan saling berdekapan. Hujan dan angin sudah tak mampu mendinginkan tubuh kita. Begitupun petir, dia sudah tak mampu mengusik lagi.

Kini kami sudah memiliki 2 buah hati kecil bernama Hazna Fatimatuzzahra dan Muza Annisatur Rahma.

#fantasi

TETAP ADA CINTA

Entah, di malam yang cukup gerah badanku mengigil tak karuan. Kuteguk air putih yang selalu menemani setiap malam tidurku. Sepintas, mata ini tertuju pada jam kecil warna biru pemberian dari gadis manisku di atas meja, yang sudah berdebu. Kutajamkan penglihatan, ternyata tepat pukul 00.45.

Perasaanku aneh, ada apa sebenarnya. Tak sengaja kuusap wajah ini, baru aku sadari air mata sudah memeluk mesra pipi kusamku.

“Oh Tuhan, mengapa!”, sambil kujambak rambut hitam ini. Mengapa rasa ini tak bisa pergi dariku, bagaimana cara melupakan gelisah yang mendera wahai Tuhanku.

Bukankah engkau sebaik-baik penyembuh segala lara. Tolong Ya Tuhan. Semua ini begitu sangat menyiksa, tolong berikan sedikit celah bahagia terhadapku. Aku janji, tak akan pernah melupakan semuanya.

Sampai kapan senyum ini akan taku menghadapi cahaha hangat sang mentari. Aku sangat tahu mentaripun pasti tertawa hebat melihatku, karena memang ini impianya.

Terlalu dalam rasaku padanya. Gadis manis yang tak lagi bisa kumanjakan. Ya, mau bagaimana lagi, dunia sudah sangat membenci kami.

Wahai alam. Sepandai apapun kau memisahkan, tak akan pernah sekalipun memenangakan pertaruhan ini.

Aku akan tetap memeluknya, meski raganya tak pernah kujumpai.

Aku akan tetap melihatnya, meski tak selembar pun foto yang kusimpan .

Aku akan tetap berdansa denganya, meski tangan lembutnya tak akan bisa kuraih.

Duniya Mein Kitni Hain Nafratein

Phir Bi Dilo Mein Hai Chahtein

#

Mar Bi Jaye Pyaar Wale Mit Bi Jaayen Yaar Wale

Zinda Rehti Hain Unki Mohabbatein

Sekali lagi ingatlah wahai dunia. Walau ada kebencian, di hati masih tetap ada cinta. Itu yang aku lakukan dengan gadis manisku, kemenanganmu hanya sepintas dapat mengambilnya dariku. Akan tetapi bagiku, kamu telah kalah. Karena cinta kita tak bisa sedikitpun kau pisahkan.

Ya. Gadisku telah mati, aku tak akan menyesalinya. Sesungguhnya aku tak memiliki sedikitpun syarat untuk tetap mencintainya.

Ya. Gadisku telah mati.

#songlit
#mohabbatain

Serpihan Lara

Suara ricuh dari gesekan roda kereta dengan lintasan besi mendadak membingungkan pikirku. Tak cukup itu saja, suara pertengkaran antara gerbong satu dengan yang satunya sungguh menambah beban akal sehatku.

Entah, saat itu aku mungkin mulai mengurung semua rasaku. Dalam hati berbisik “Apa benar aku akan meninggalkan semua kenangan bahagiaku?” Sempat terdiam sejenak, dan tetap saja tak kutemui jawaban pasti.

Dilema sangat kejam. Dia mampu melukai dalam kebahagiaan, merengut semua senyum manis bibirku, mengutuk tatapan genitku hingga tak bisa lagi ku menggoda para bidadari-Nya.

Sekujur badanku terasa kosong, tanpa ada aliran darah yang mengisinya. Membuat tak berdaya, semua pandangan pun pendengaranku bias.

Pundakku terasa ada yang menyentuh, seketika itu kumulai memaksa sadarku. Kulihat samar ternyata di depanku ada petugas kereta yang mengecek tiket penumpang. Sepontan kuambil selembar kertas dengan gugup dalam saku, lalu kusodorkan pada petugas (tanpa kuberkata sehuruf pun).

Sempat terganggu oleh petugas itu, pikiranku mulai kembali pada semua keresahan. Mencoba kuyakinkan hati, bahwa memang semua bahagia yang terlukis dalam suasana pedesaan harus mulai kulipat mesra dalam relung batin.

Aku tahu sangat, itu belum mampu menyembuhkan besitan lara ini. Tapi ini satu-satunya cara yang saat ini bisa kudekap.

Lagi-lagi kutersentak. Ya, suara manja dari petugas terdengar remang di telingaku, bahwa kereta yang kutumpangi sudah tiba di stasiun tujuan. Benar, stasiun Semarang Poncol.

Ku usap wajah yang sudah sedikit berkeringat dengan kedua tanganku, kupasang heandset di telinga kanan yang memang dari awal sudah menempel di bahuku, kemudian kugendong tas ransel di pundak lalu kuturun dari kereta.

Kuputuskan duduk sebentar di kursi besi yang masih kosong. terdengar sangat ramai, penuh dengan tawa. Terlihat juga banyak anak kecil yang berlarian sana sini, sempat pula terlihat seorang kakek nenek yang mesra berpegangan tangan, dalam hati berkata “sungguh sejati cinta mereka.” Ah sudahlah, nyatanya hatiku masih terkurung lemah dalam suasana rumah.

Ternyata anggapanku benar. “Selama rindu masih menetap, keramaian tak akan menjanjikan tawa.”

Kutundukan wajahku kebawah dengan kututup pakai kedua tanganku. “Mas” terdengar suara lirih di telingaku dan aku masih pada kepedihanku, mungkin memang dia tak memanggilku (dalam pikirku).

“Mas” lagi-lagi suara itu mengusikku. wajah ini kupalingkan ke sumber suara itu, “Minum Mas” dia menawariku minum sambil membuka sedikit senyuman di bibirnya. Aku terdiam sebentar, “Oh iya Mbak” jawabku sedikit gugup.

Dengan setelan kerudung pink , baju atasan blouse warna biru dongker, celana jeans hitam, juga sedikit makeup diwajahnya sempat mengagetkanku.

“Lagi mikirin apa Mas?” (Dia memulai pembicaraan), “t..tidak Mbak, tidak mikirin apa-apa ini,” jawabku dengan sedikit senyuman) “beneran Mas, dari waktu turun dari kereta saya perhatikan Mas melamun terus” (sahutnya).

Tidak lama dia mengakhiri obrolan kita, “Oh ya sudah Mas temenku sudah datang, oh ya ini minumnya di bawa, dengan sedikit menggeser botol minuman yang masih belum di buka ke arahku.”

“Iya Mbak terima kasih” (jawabku). “Mbak” panggilku lirih, ah ternyata dia sudah berjalan, niatku ingin mengajaknya berkenalan.

Tiba-tiba gawaiku berbunyi, masuk pesan dari saudaraku ternyata dia sudah sampai di stasiun, tiba di rumahnya, istri saudaraku menyambutku bersamaan juga dengan hidangan yang sudah siap makan.

Mengobrol sambil menikmati hidangan, pikirku sudah mulai dingin. Kuambil nafas dalam-dalam sambil berkata dalam hati, aku yakin disini pula akan ada kebahagiaan yang menjemputku, tak sadar bibirku pun sudah bisa tersenyum memahami keadaan baru ini.

#komunitasonedayonepost

#tantangan1

#fiksi

Pengenalan Teknologi Pada Anak Usia Dini

Tak bisa dipungkiri teknologi sudah memenuhi dunia sekarang ini, mulai dari anak-anak, bahkan para lansia.

Teknologi memiliki sisi positiv juga negativ. Tinggal bagaimana kita mengkonsumsinya.

Sejatinya teknologi di buat tak lain hanya untuk memudahkan setiap pekerjaan manusia.

Tentunya itu sangat menguntungkan dan memudahkan buat manusia, akan tetapi menggunaan teknologi juga harus memilah-milah, apa itu baik ataukah tidak.

Kembali, teknologi bukan hanya memiliki sisi positiv. Jadi harus pandai-pandainya kita memanfaatkan.

Contoh singkat: Teknologi HandPhone (HP) itu sangat bermanfaat bagi manusia, bagaimana tidak, dengan alat itu kita bisa sepuasnya berkomunikasi dengan siapapun  tanpa harus bertatap muka.

Dari kejadian diatas bagaimana teknologi tidak di katakan baik dan sangat bermanfaat?

Akan tetapi, bagaimana bila HP di konsumsi oleh anak-anak?

Inilah tugas penting sebagai orang tua, yang mana senantiasa harus membatasi anak untuk bermain dengan HP.

Baik buruknya pengaruh HP terhadap anak, itu sangat di tentukan bagaimana cara orang tua mengenalkan teknologi terhadap kesayangan.

Tidak bisa di hindari lagi bahwa dengan adanya teknologi semacam itu, juga lebih memudahkan orang tua untuk bekerja sambil menjaga anak, dengan menontonkan video kartun, bahkan game.

Akan tetapi harus di pahami juga bahwa jika anak terlalu banyak mengkonsumsi HP, tentunya anak menjadi ketergantungan antara anak dengan HP.

Itu sangat tidak baik buat pribadi anak, bisa mengambil rangsangan kreativ. Anak tidak lagi banyak berpikir kreativ pribadi anak pun akan mulai sulit di bentuk.

Bagaimana tidak? Jika anak menangis sedikit  langsung minta HP,  sudah tidak mau didiamkan dengan cara apapun.

Jadi kesimpulanya, bebas mengenalkan anak dengan teknologi, bahkan itu perlu. Akan tetapi harus ada cara-cara yang di tempuh, diantaranya:
-selalu mengawasi
-membatasi anak bermain HP
-sering-sering mengingatkan bahwa terlalu banyak bermain HP itu tidak bagus.
-dll

Mungkin itu sebagian alternatif yang bisa orang tua ambil.

Jangan juga tidak mengenalkan anak dengan teknologi, karena itu akan sangat merugikan. Nantinya anak akan tumbuh dengan pengetahuan yang lebih sedikit di banding anak-anak yang mengenal teknologi dengan bimbingan yang baik dari orang tua.

Semoga tulisan ini bisa sedikit bermanfaat bagi saya pribadi, teman-teman juga orang tua yang memiliki jagoan kesayanganya.

Untuk lebih mudah, orang tua juga bisa memasukkan anak-anaknya untuk lebih mengenal teknologi di sanger Learning dan Kursus komputer di Medan.

Caranya mudah tinggal klik di sangerlearning.com

Dijamin anak lebih kenal dan baik dalam ber teknologi. Selamat mendaftar

#sangerLearningBlogCompetition

SURAT CINTA

Aku yang dulu hanya remaja tanpa kesibukan, sekejap menjadi seseorang yang sok sibuk, setelah masuk dalam komunitas One Day One Post.

Setiap hari di paksa menulis, entah itu cerpen, puisi, opini, dst. Awalnya memang berat. Iyalah, dulunya yang setiap hari hanya nulis chat, sekarang nulisnya puisi, apalagi cerpen yang minimal 300 kata.

Tetapi berjalanya waktu itu bisa aku lalui, berkat bimbingan para ibu-ibu dan bapak-bapak PJ di group pulau buru. Hehe

Saya akui, menjadi seorang PJ bukankah hal yang mudah, mengurusi kami yang masih polos akan dunia menulis, di tambah lagi masih harus mengurus kebutuhan pribadi, bahkan mengurus kesibukan rumah tangga, anak pun suami.

Beliau sungguh luar biasa, tidak bisa di bayangkan bukan? Terkadang memang sifat galak beliau keluar. Hehe

Wajar saja kok, dengan semua aktivitas pastinya rasa capek juga pasti menghampiri mereka. Di tambah kita yang masih polos sering chat WhatssApp, nanya yang macem-macem, waktu rekap ternyata dari kami sebagian ada yang masih punya hutang tulisan.

Meski begitu mereka tak lelah mengingatkan untuk melunasi hutang, biar bisa selalu ikut group menulis sampai selesai.

Sebenarnya masih banyak yang ingin saya sampaikan, berhubung saya menulis ini memasuki detik-detik deatline. Yah, terpaksa tidak bisa kutulis semuanya.

Terimakasih banyak buat kakak-kakaku semua. Atas semua kesabaran, ilmu, dan pengalamanya. Kami sadar telah banyak merepotkan, bahkan juga meminta waktu yang seharusnya itu kakak buat untuk kebutuhan pribadi.

Trimakasih juga buat ilmu yang telah banyak di berikan pada kami, seengaknya kita semua sudah mulai banyak tahu tentang dunia kepenulisan.

Semoga apa yang telah kakak-kakak beri dan ajarkan pada kami senantiasa Allah membalas keikhlasan kakak. Amien

Oh iya. Beliau masih muda-muda kok, tadi saya cuma bercanda memanggil bapak-bapak dan ibu-ibu. Hehe ya meski memang sebagian sudah ada yang berkeluarga, tetapi tetap saja beliau adalah orang yang luar biasa.

Mohon maaf jika dari awal sampai saat ini kami banyak salah. Saya pribadi juga meminta maaf yang sebanyak-banyaknya.

Semoga kakak-kakak berkenan memaafkan saya. Amien

Selama menulis dekat dengan pribadimu

Selamat, anda sebagian dari pemuda-pemudi yang bisa membantu menyelamatkan negara ini dari langkanya pecinta literasi.

#komunitasonedayonepost

#suratcintauntukPJODOPBATCH6

#SURATCINTA

#ODOPBATCH6